Pasang Iklan Gratis

Kenapa kucing suka menjilat pemiliknya? Ini alasannya

 Pernah mengalami momen di mana kamu sedang mengelus kucing di sofa, ia mendengkur, suasana terasa hangat, lalu tiba-tiba ia berhenti menikmati elusan dan mulai grooming—menjilat tubuhnya sendiri dengan sangat serius. Bahkan kadang, bukan cuma dirinya yang dijilat. Tangan, lengan, atau mungkin pipi kamu ikut jadi “target” lidahnya yang sedikt kasar.

Pertanyaannya: kenapa kucing menjilat manusia? Apakah ia sedang “membersihkan” kita? Atau ini sekadar kebiasaan aneh yang sulit dipahami?

Seorang ahli perilaku hewan dan pakar kucing, Kristyn Vitale dari Maueyes Cat Science and Education, menjelaskan bahwa perilaku menjilat bukan sekadar soal kebersihan. Ada lapisan sosial yang penting di baliknya.

Dari induk ke anak: menjilat itu bagian dari “mengasuh”

Pada kucing, perilaku menjilat punya peran besar di fase awal kehidupan. Induk kucing rutin menjilat anaknya dan kebiasaan ini punya dua tujuan utama:

Pertama: menjaga anak tetap bersih dan sehat. Anak kucing rentan penyakit dan mudah kotor. Tentu induk kucing tidak akan memandikan anaknya dengan air dan sabun—cara paling “masuk akal” bagi mereka adalah membersihkan dengan lidah.

Kedua: membangun ikatan sosial. Bagi anak kucing, dijilat oleh induknya adalah salah satu bentuk interaksi sosial paling awal. Ini seperti pesan emosional yang sederhana tapi kuat: “Aku sayang dan aku peduli.”

Jadi, sejak awal, menjilat sudah menjadi “bahasa” yang menggabungkan perawatan fisik dan kedekatan emosional.

Saat dewasa, grooming berubah jadi bahasa pertemanan

Anak kucing belajar grooming dari induknya dan biasanya mulai menjilat diri sendiri sekitar usia empat minggu. Setelah itu, sebagian kucing mulai melakukan grooming timbal balik—bukan hanya ke induknya, tetapi juga ke saudara kandungnya, kucing lain, atau manusia tertentu di rumah.

Dalam istilah perilaku hewan, kucing yang sering saling menjilat bisa disebut “preferred associates”—semacam “teman dekat pilihan”. Pada kucing yang punya ikatan kuat, grooming timbal balik adalah cara memperkuat status “bestie”-nya.

Intinya: menjilat kucing lain (atau manusia) adalah perilaku sosial penting untuk membangun dan merawat hubungan.

Menariknya, pola ini juga terlihat pada kucing liar. Induk kucing liar tetap menjilat anaknya untuk kebersihan dan ikatan. Bahkan, ketika dewasa, beberapa spesies kucing besar seperti singa dan harimau kadang terlihat menjilat sesamanya.

Namun, Vitale menekankan satu perbedaan besar: banyak kucing liar (misalnya harimau atau kerabat dekat kucing rumahan seperti African wildcat) tidak hidup dalam kelompok sosial seperti kucing domestik. Karena itulah, mereka tidak selalu punya banyak kesempatan untuk menunjukkan grooming sosial pada “teman”.

Sebaliknya, kucing rumahan hidup dekat manusia dan sering berada di lingkungan yang lebih sosial—maka peluang perilaku “menjilat sebagai interaksi” juga lebih besar.

Jadi, kenapa kucing menjilat kita?

Kalau kucing menjilat manusia, pada umumnya itu bukan karena ia “kotor” dan perlu dibersihkan seperti anak kucing. Menurut Vitale, ini lebih sering berarti kucing sedang mengajak interaksi sosial, sedang dalam mood yang nyaman dan bahagia, dan ingin memperkuat hubungan dengan pemiliknya.

Dengan kata lain, dalam “bahasa kucing”, menjilat bisa dibaca sebagai: “Aku sayang kamu, aku nyaman dekat kamu.”

Tapi bagaimana kalau kucing tidak pernah menjilat?

Kabar baik: kucing yang tidak menjilat kamu bukan berarti tidak sayang. Vitale menegaskan bahwa menjilat hanyalah salah satu bentuk perilaku sosial. Ada banyak cara lain kucing menunjukkan ikatan, misalnya: duduk di pangkuan atau menempel dekat pemiliknya, menggesekkan tubuh atau kepala, mengikuti ke berbagai ruangan, mengajak bermain, atau sekadar memilih tidur di area yang sama.

Jadi, kucing “bukan tipe penjilat” tetap bisa sangat menyayangi pemiliknya—mereka hanya punya gaya bahasa kasih sayang yang berbeda.

0 Response to "Kenapa kucing suka menjilat pemiliknya? Ini alasannya"

Posting Komentar