Pasang Iklan Gratis

Kementrans manfaatkan citra satelit dukung industri tebu Melolo

 Kementerian Transmigrasi (Kementrans) memanfaatkan teknologi citra satelit untuk mendukung pengembangan industrialisasi tebu di Kawasan Transmigrasi Melolo, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan teknologi tersebut digunakan untuk membantu pemetaan serta identifikasi kesesuaian lahan dan tanaman dalam pengembangan pertanian modern di kawasan transmigrasi.

“Saat ini di Kawasan Transmigrasi Melolo telah berjalan pemanfaatan teknologi satelit untuk mendukung industrialisasi tebu. Ini contoh konkret pertanian modern menggunakan teknologi citra satelit, dengan melibatkan ilmuwan untuk membantu mendeteksi tanaman tebu yang cocok ditanam di sana,” kata Iftitah dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Senin.

Pernyataan tersebut disampaikan Iftitah saat memberikan kuliah umum di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Halim Perdanakusuma.

Ia mengatakan pemanfaatan teknologi kedirgantaraan dapat membantu mengatasi keterbatasan geografis kawasan transmigrasi melalui citra satelit, pemetaan wilayah, hingga penguatan konektivitas.

Menurut dia, pemanfaatan teknologi tersebut perlu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas kawasan sekaligus mendukung tumbuhnya kegiatan ekonomi dan industrialisasi berbasis potensi lokal.

Sebagai salah satu proyek pengembangan industri di kawasan tersebut, Kementerian Transmigrasi pada Agustus 2025 mencatat industri gula di Melolo menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja tetap dan jumlahnya dapat mencapai 6.000 orang pada musim panen.

Kementerian Transmigrasi juga mencatat tebu yang dihasilkan di kawasan itu memiliki rendemen atau kadar gula hingga 21 persen, dibandingkan rata-rata nasional sekitar tujuh persen.

Sementara itu, pabrik gula terpadu PT Muria Sumba Manis di Sumba Timur memiliki kapasitas penggilingan sekitar 12 ribu ton tebu per hari dan terintegrasi dengan perkebunan tebu perusahaan.

“Bukan hanya sekadar memindahkan penduduk, tetapi bagaimana kita membangun industrialisasi di luar Pulau Jawa. Dengan adanya industrialisasi, lapangan kerja terbuka, daya beli masyarakat meningkat, dan pada akhirnya aktivitas ekonomi serta penerimaan negara juga tumbuh,” ujar Iftitah.

Ia mengatakan pendekatan transmigrasi saat ini tidak lagi semata-mata berorientasi pada perpindahan penduduk, melainkan pengembangan kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Dalam kerangka Transmigrasi Patriot, Kementerian Transmigrasi juga menjalankan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) untuk melibatkan perguruan tinggi dalam riset, kajian, pendampingan masyarakat, dan pengembangan potensi ekonomi kawasan.

Pada 2026, Kementerian Transmigrasi melepas 1.476 peserta TEP yang tergabung dalam 246 tim untuk bertugas di 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.

Iftitah mengatakan potensi kawasan transmigrasi tidak hanya berada di sektor pertanian, tetapi juga mencakup sektor maritim, pariwisata, industri berbasis sumber daya lokal, serta sektor ekonomi lain sesuai karakteristik wilayah.

“Pendekatan transmigrasi saat ini berbeda. Kita menghadirkan SDM unggul, teknologi, dan industrialisasi agar kawasan tumbuh dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ucap dia.

Sementara itu, Rektor Unsurya Marsda TNI (Purn) Sungkono mengatakan teknologi kedirgantaraan dapat berperan dalam mengatasi tantangan konektivitas antardaerah di Indonesia.

“Untuk mewujudkan konektivitas, bukan mengenai jarak, tetapi bagaimana semua urat nadi wilayah, terutama ekonomi, dapat terhubung. Teknologi kedirgantaraan mampu menembus ruang dan jarak dengan cepat dan strategis,” ujar Sungkono.

Ia menekankan bahwa pemanfaatan teknologi tidak hanya dinilai berdasarkan tingkat kecanggihannya, tetapi juga manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.

0 Response to "Kementrans manfaatkan citra satelit dukung industri tebu Melolo"

Posting Komentar